Tampilkan postingan dengan label Persinggahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persinggahan. Tampilkan semua postingan

Tentang Jalan

Setiap hari kita berjalan.

Menuju kantor.

Menuju sekolah.

Menuju rumah.

Menuju tempat yang ingin kita datangi.

Kita tahu ke mana kaki melangkah.

Namun...

apakah kita juga tahu ke mana hidup sedang menuju?

Aneh rasanya.

Kita tidak akan naik kendaraan tanpa mengetahui tujuannya.

Kita tidak akan membeli tiket tanpa mengetahui kota yang akan didatangi.

Tetapi dalam kehidupan...

sering kali kita terus berjalan tanpa pernah benar-benar bertanya,

"Ke mana sebenarnya aku sedang menuju?"

Mungkin itulah sebabnya banyak orang merasa lelah.

Bukan karena jalannya terlalu jauh.

Tetapi karena berjalan tanpa arah menghabiskan tenaga lebih banyak daripada berjalan menuju tujuan.

Sesekali, lihatlah sebuah jalan.

Ia tidak pernah memilih siapa yang melintasinya.

Anak kecil.

Orang tua.

Orang kaya.

Orang miskin.

Semuanya melewati jalan yang sama.

Namun setiap orang memiliki tujuan yang berbeda.

Jalan hanyalah jalan.

Arah ditentukan oleh orang yang melangkah.

Begitu pula kehidupan.

Hari-hari yang kita jalani mungkin tidak jauh berbeda dengan orang lain.

Yang membedakan adalah arah yang kita pilih.

Karena pada akhirnya...

bukan seberapa cepat kita berjalan yang menentukan.

Melainkan apakah setiap langkah membawa kita semakin dekat kepada tujuan yang benar.


Persinggahan

Besok ketika kamu berjalan ke mana pun...

perlambat langkahmu sejenak.

Lalu tanyakan dalam hati,

"Apakah langkah kakiku hari ini searah dengan langkah hidupku?"

Tentang Pagi

Tidak ada pagi yang datang dengan tergesa-gesa.

Ia selalu hadir dengan cara yang sama.

Pelan.

Langit yang perlahan berubah warna.

Udara yang masih menyimpan kesejukan malam.

Suara-suara yang mulai kembali terdengar.

Hari baru tidak pernah datang sambil berteriak.

Ia datang dengan tenang.

Namun sering kali, kita menyambutnya dengan terburu-buru.

Sebelum benar-benar terbangun, tangan kita sudah mencari ponsel.

Sebelum melihat langit, kita sudah melihat notifikasi.

Sebelum bersyukur atas hari yang baru, kita sudah memikirkan beban yang akan dijalani.

Seolah-olah kehidupan dimulai dari layar.

Padahal jauh sebelum layar itu menyala...

hari sudah lebih dulu dimulai.

Pagi mengajarkan bahwa setiap hari adalah kesempatan.

Bukan kesempatan untuk menjadi sempurna.

Tetapi kesempatan untuk memulai lagi.

Kesalahan kemarin tidak ikut terbit bersama matahari.

Penyesalan semalam tidak menghalangi datangnya fajar.

Alam tidak pernah berkata,

"Kemarin kamu gagal, jadi hari ini tidak perlu dimulai."

Ia tetap menghadirkan pagi.

Berulang.

Tanpa lelah.

Mungkin kehidupan sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana.

Selama masih ada pagi...

selalu ada kemungkinan untuk memulai kembali.

Bukan karena masa lalu hilang.

Tetapi karena kehidupan masih memberimu satu hari lagi.

Dan mungkin...

itulah hadiah yang paling sering kita terima tanpa pernah benar-benar kita sadari.


Persinggahan

Besok pagi, jangan langsung melihat ponselmu.

Bukalah jendela.

Lihat langit selama satu menit.

Biarkan hari menyapamu...

sebelum dunia mulai berbicara.